Fiksi

Cinta Bersemi di Lampion Garden

 

Senja begitu indah saat ini, tapi tidak bagiku. Semburat jingganya tak mampu membuatku berdecak kagum seperti biasanya. Hatiku benar-benar berselimut bayang-bayang kelabu.

Kutatap dengan tajam lelaki yang duduk di depanku. Dia balik menatapku, sorot matanya seakan menyiratkan permintaan maaf.

 

“Jadi kamu akan meninggalkanku begitu saja, Rey? Setelah hubungan kita berjalan selama ini?”

“May, maafkan aku. Papa menginginkanku melanjutkan kuliah di Amerika. Papa menginginkan yang terbaik untuk masa depanku.”

“Alasan yang klise, Rey. Kamu menuruti keinginan papamu tanpa memerdulikan hatiku.”

“Aku juga tidak menginginkan perpisahan ini, May. Tapi …”

“Tapi kau tidak bisa menolak permintaan papamu, kan? Kenapa kau tidak pernah membicarakan hal ini sebelumnya kepadaku, Rey. Kenapa?!”

Rey terdiam. Dadaku seakan meledak saat itu juga..

“Atau jangan-jangan ini hanya alasanmu saja agar kita bisa putus, Rey ..”

“Tidak, May. Aku bukan lelaki seperti itu.”

“Bukan? Lalu berapa lama aku harus menunggumu sementara kau sendiri tidak memberi kepastian berapa tahun kau di sana. Apa aku harus menunggumu sampai jadi nenek-nenek?”

“Tentu tidak. Aku akan terus memberi kabar sesampai aku di sana. Mengertilah, May.”

 

Rey menggenggam tanganku kuat-kuat. Aku bergeming. Tak ada lagi kehangatan yang biasanya kurasakan. Semuanya terasa hambar saat ini.

Keheningan melingkupi kami berdua. Aku sudah malas berdebat untuk sesuatu yang tak pasti. Kepastian … hanya itu yang ingin kudengar dari mulut Rey. Tapi dia tak bisa memberikannya padaku. Ya, mungkin ini ujian bagi cinta kami. Aku harus sabar menunggu Rey pulang dari Amerika. Sampai waktunya tiba dan kami bisa meraih kebahagiaan kami kembali, meski aku tak yakin apakah aku akan mampu melewati semua ini sendirian.

 

***

 

Setelah keberangkatan Rey, ada sesuatu yang kurasakan hilang dari diriku. Aku sangat merindukan saat-saat berdua dengan Rey. Aku rindu saat kami pergi ke Gramedia dan membaca banyak buku berjam-jam di sana. Aku rindu menikmati malam dengan roti bakar dan teh hangat di kedai langganan kami. Aku rindu makan bakso di dekat kantor Rey. Aku rindu menonton film di bioskop sambil menyemil pop corn. Aku rindu … ah terlalu banyak tempat kenangan yang tak akan habis jika dituliskan.

 Tidakkah kau rindu semuanya itu, Rey? Ataukah semua itu terlalu sederhana untuk kau ingat? Padahal hal-hal sederhana seperti itulah yang membuatku bahagia. Melepas pekerjaanmu yang sekarang dan meninggalkanku tanpa pembicaraan tentang rencanamu ini sebelumnya, sudah menjadi pilihanmu yang tak bisa kuubah. Pilihan papamu, itu katamu. Tapi pilihan papamu atau pilihanmu sendiri tak ada bedanya buatku, yang kutahu kau tetap berangkat meninggalkanku tanpa janji yang pasti.

 

Di bulan-bulan awal, Rey masih rajin mengirimi email dan whatsapp hampir tiap hari. Tapi setelah hampir 3 tahun, kabar yang kuterima mulai jarang dan akhirnya aku kehilangan kontak sama sekali. Email dan whatsapp yang kukirim tidak pernah dibalas. Sampai suatu siang terdapat pesan di emailku.

 

May..

Kuliahku sudah selesai tapi aku masih tidak bisa pulang. Aku memutuskan untuk bekerja beberapa tahun lagi di sini, untuk menimba pengalaman sebelum pulang ke Indonesia. Maafkan aku, tidak usah menungguku lagi, May. Ada seorang gadis di sini yang sudah mengisi hatiku. Entah kenapa aku merasa lebih cocok dengan gadis itu, May. Selamat tinggal. Sekali lagi maafkan aku …

Salam : Rey

 

Aku tercenung beberapa saat, sampai akhirnya aku sadar bahwa ini bukanlah mimpi. Ini kenyataan teramat pahit yang harus kuterima. Betapa sakitnya kehilangan orang yang kita cintai. Betapa perihnya hati yang dicampakkan. Penantianku selama ini benar-benar sia-sia. Bodohnya aku, terlalu berharap Rey akan kembali. Mestinya aku tahu, dengan kepergiannya ke Amerika maka hubungan kami juga akan berakhir. Mungkin banyak cerita cinta yang berakhir bahagia meski kekasihnya pergi ke negeri seberang. Tapi ternyata aku bukan bagian dari kebahagiaan itu.

    Tega sekali kau, Rey! Ah, bodohnya aku kenapa masih mau menunggumu selama ini.

Kulewati sisa hari itu dengan mengurung diri di kamar kost. Membasahi bantal dengan air mata yang seakan tak bisa berhenti mengalir sambil memeluk erat boneka pemberian Rey, sampai akhirnya tertidur kelelahan.

 

***

 

Seminggu lagi adalah malam tahun baru, dan seperti kebiasaanku di tahun-tahun lalu, aku memanfaatkan liburan natal dan tahun baru untuk pulang ke rumah. Kedua orang tuaku pasti sudah menunggu kedatanganku. Biasanya Rey sendiri yang mengantarku ke rumah di Batu, Malang dan ikut merayakan malam tahun baru di kota yang berhawa sejuk itu. Tapi semenjak kepergian Rey, dua kali sudah aku pulang sendirian menjelang tahun baru dan tahun ini adalah tahun yang ketiga aku pulang sendiri.

 

Masih kuingat pandangan heran kedua orang tuaku saat pertama kalinya aku pulang tidak bersama Rey.

“May, mana Rey? Kok pulang sendirian?”

“Rey tidak bisa mengantarku, Pa.”

“Kenapa? Dia ada acara dengan keluarganya, ya?”

“Rey sedang ada di Amerika, Pa?”

“Aaapaaa?? Amerika? Kok bisa?”

“Papa Rey menginginkannya kuliah lagi di Amerika.”

Akhirnya meluncur juga cerita tentang keberangkatan Rey ke Amerika, sesuatu yang sebenarnya tak ingin kuceritakan pada mereka.

“Tapi bukan berarti putus, kan? Kau harus sabar menunggunya pulang.”

“May akan sabar menunggu, Ma.”

“Kalau dia memang jodohmu, dia pasti akan kembali padamu. Percayalah.”

Aku menggangguk mengiyakan saat itu, tak ingin memperpanjang lagi cerita tentang Rey.

 

Kali ini aku akan pulang dengan membawa sakit hati yang lebih parah lagi. Kepastian itu sudah kudapat dari Rey, dan itu terasa menyakitkan. Putus! Satu kata yang mengerikan buatku, kata yang sebenarnya tidak ingin kudengar dalam perjalanan cintaku. Tapi ternyata harus kuterima. Sudah terbayang keterkejutan di wajah mama dan papa saat nanti aku menceritakan berita buruk itu.

 

***

 

Saat ini tiba juga. Aku menguatkan hatiku untuk membicarakan tentang Rey setiba aku di rumah. Seperti yang sudah kubayangkan, mama dan papa terkejut mendengar berita itu. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Mama mengelus rambutku dan memelukku dengan lembut.

 

“Yang sabar, May. Rey mungkin bukan jodoh yang tepat buatmu.”

“Enak sekali si Rey itu putusin anak orang, dikira mainan apa?”

Suara papa terdengar menggelegar.

“Sudahlah, Pa. May tak ingin berurusan dengan Rey lagi. Tak ada gunanya.” Aku berusaha menenangkan papa, meski dengan hati yang hancur.

 

Malam hari ini adalah malam tahun baru. Esok pagi, tahun yang lama sudah berganti. Apakah aku bisa bangkit di tahun yang baru? Entahlah, aku sendiri tidak tahu …

 

Pergantian tahun memang paling berkesan kalau dirayakan dengan orang yang kita cintai. Sekedar merayakannya dengan cupcake mungil dan teh hangat. Ataupun berdua, memandang kerlip bintang di langit yang kelam. Menghitung detik demi detik menuju tahun yang baru dan meniup terompet bersama-sama. Tapi itu dulu, sekarang aku harus melewati malam tahun baru sendirian, tanpa Rey. Dua tahun dan setahun lalu aku juga melewatinya sendirian, tapi tidak sesedih sekarang ini. Dulu meski sendirian, setidaknya aku masih mempunyai harapan akan kebersamaan cintaku bersama Rey. Dan tahun ini, harapanku betul-betul musnah.

Aku pamit pada mama dan papa untuk keluar rumah sendirian malam ini, dan mereka mengijinkan tanpa banyak tanya. Ah, hanya orang tuaku yang mengerti diriku dan tak pernah membuat hatiku sedih. Hanya merekalah yang selalu ada di sampingku dalam segala keadaan. Aku tersenyum getir saat bayangan Rey kembali melintas.

 

Kuhirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Aku suka hawa dingin kotaku ini. Terasa segar menyentuh tubuhku. Pantas banyak pendatang dari luar kota berkunjung ke sini, apalagi pada saat liburan. Hanya untuk menghirup hawa segar yang jarang didapatkan mereka di kota-kota besar tempat mereka tinggal. Hawa segar seperti ini memang sedikit banyak bisa menyegarkan pikiran yang keruh.

Aku memutuskan pergi ke tempat wisata Batu Night Spectacular (BNS) yang tidak terlalu jauh dari rumah. Pengunjung sudah memadati tempat ini, memang selalu saja tempat ini tak pernah sepi dari pengunjung. Di hari biasa saja sudah ramai sekali, apalagi saat malam tahun baru seperti ini, ramainya berkali lipat dari biasanya.

Begitu sampai aku langsung menuju ke wahana Lampion Garden, tempat dimana aku bertemu Rey untuk pertama kalinya. Pertemuan yang akhirnya berlanjut pada pertemuan selanjutnya. Memang di kota Batu, Malang inilah awal cinta kami bersemi.

 

Lampion Garden ini masih sama seperti dulu. Beraneka macam bentuk lampion tampak indah gemerlap sepanjang area itu. Kurekam semuanya dalam ingatanku, untuk terakhir kalinya. Terlalu sakit jika harus kembali lagi ke sini. Biarlah hari ini adalah terakhir kalinya aku kemari, dan aku tak mau kembali lagi ke sini. Setidaknya sampai aku bisa memulihkan sakit hatiku ini.

Di bagian lampion berbentuk dua buah hati, langkahku terhenti. Aku duduk di situ dan memejamkan mataku perlahan. Dulu, aku dan Rey paling suka duduk di kursi di bawah lampion berbentuk hati ini. Bahkan foto kenangan di bangku ini masih kusimpan dengan rapi di laci mejaku. Bayangan Rey kembali terlintas tanpa kuasa kucegah. Aku mendesah dan membuka mataku perlahan.

    Kenapa begitu sulit melupakanmu, Rey?Kenapa aku tidak bisa seperti dirimu, yang   dengan mudah melupakan aku? Kenapa?

 

Langit di kota Batu, Malang saat itu tampak kelam. Hanya sedikit bintang yang tampak di langit saat itu, dan terlihat begitu jauh. Hembusan angin malam mulai memporak-porandakan rambutku. Aku merapatkan jaketku mengusir dingin yang menyergap.

    Apakah hujan sebentar lagi akan turun?  Sial, kenapa aku lupa membawa payung atau jas hujan. Hujan bisa datang sewaktu-waktu di bulan Desember ini.

Kuperhatikan orang yang lalu lalang di area itu, sebagian besar sudah siap dengan payung di tangan mereka. Benar saja, beberapa menit kemudian gerimis mulai turun. Aku kebingungan mencari tempat berteduh, dan menjadi pasrah saat tidak menemukannya. Kubiarkan tetesan air hujan membasahi tubuhku.

     Biarlah, siapa tau air hujan ini akan membuang semua ingatanku tentang Rey ..

 

Tiba-tiba ada sebuah benda di atas kepalaku. Aku terkejut. Payung! Siapa yang memayungiku? Kutoleh siapa orang yang berbaik hati memayungiku dan seketika mataku menangkap wajah seorang lelaki berwajah tirus dan berkacamata tersenyum padaku.

 

“Aku cuma punya satu payung. Kita pakai payung ini bersama-sama, ya?”

“Makasih,” desisku pelan. Dipayungi oleh orang tak dikenal sebenarnya membuatku canggung, tapi tak ada pilihan lain. Masih untung ada yang berbaik hati berbagi payung sehingga aku tidak basah kuyub.

“Sendirian?”

“Iya, kamu?”

“Sendirian juga. O’ya panggil aku Tom. Kalau boleh tahu, siapa namamu?”

“Maya, panggil saja May …”

“Nama yang manis, semanis orangnya.”

“Makasih buat pujiannya, aku tidak merasa seperti itu kok.”

“Haha.. jangan marah. Kau tidak senang dipuji rupanya.”

Aku melengos dengan muka sedikit cemberut.

Baru kenal, sudah berani ngegombal..

Tom mungkin tahu kalau aku kurang senang mendengar pujiannya. Dia segera mengalihkan pembicaraan.

“May, kau sedang liburan juga di sini?”

“Sebetulnya bukan liburan sih, tapi mudik. Rumah orang tuaku memang di Batu ini. Tiap liburan akhir tahun aku selalu pulang rumah.”

“Oh begitu, kalau aku tinggal di Surabaya. Pengen berlibur saja sih di sini, cari hawa segar.”

“Surabaya? Aku juga tinggal di Surabaya, kost dekat kantorku.”

“Wah sama dong. Jika tak keberatan, boleh tau alamatnya dimana, sekalian nomor handphone nya. Siapa tau lain kesempatan aku akan mampir.”

Tanpa sadar aku menatap wajah Tom lama, dan rupanya Tom menyadari itu.

“Maaf, aku terlalu lancang, baru ketemu sudah langsung minta nomor handphone. Nggak usah kasih tau kalau kau keberatan. Aku nggak bermaksud jahat kok.”

“Iya, aku percaya.”

 

Senyumku mulai mengembang. Meski Tom terlihat sok akrab, tetapi hatiku mengatakan kalau lelaki di sebelahku ini tak punya maksud jahat sedikitpun padaku. Semoga saja perkiraaanku benar. Kami lalu bertukar alamat dan nomor hanphone. Tak terasa gerimis sudah reda, Tom menutup payungnya. Kulirik jam di pergelangan tanganku, jam 23.50. Tinggal 10 menit lagi tahun sudah berganti.

 

“May sebentar lagi detik-detik menjelang tahun baru. Siap-siap ya, katanya akan ada pesta kembang api lho. Untung hujannya sudah reda, ya…”

“Iya, biasanya juga begitu. Dan meski sudah berkali-kali melihatnya, tetap saja penasaran ingin melihat pesta kembang api lagi.”

Kami tertawa bersama. Merayakan malam tahun baru bersama seseorang yang baru kukenal ternyata lebih menyenangkan daripada merayakannya sendirian. Rasanya sebagian bebanku mulai hilang.

“May, tinggal 10 detik lagi. Yuk kita itung mundur sama-sama.”

“10..9..8..7..6..5..4..3..2..1..”

“Horeee!! Selamat tahun baru, May.”

“Selamat tahun baru, Tom.”

“Lihat kembang apinya di atas itu!”

 

Kami sama-sama menengadah ke langit. Bunyi kembang api bersahut-sahutan di udara, memecah keheningan malam. Langit yang semula berwarna kelam berganti dengan aneka warna yang indah. Kuning, hijau, biru, merah dan warna lainnya, seperti pelangi. Berpendar indah sekali. Dan akhirnya ketika sebuah tulisan “Happy New Year” muncul di langit, semua pengunjung bersorak-sorai dengan kagum. Suara terompet riuh bersahut-sahutan. Ucapan selamat tahun baru terdengar di mana-mana. Langit di kota Batu, Malang saat ini begitu indah. Masih tak berkedip menatap langit, aku mengucap syukur dalam hati dan menyuarakan sebuah harapan, semoga aku bisa melupakan Rey dan menjalani tahun yang baru ini dengan lebih bahagia. Sebutir air mata meluncur perlahan di pipiku, dan segera kuhapus secepat kilat saat kurasakan pandangan Tom tertuju kepadaku.

 

“Kenapa, May? Kok sedih?”

“Cuma terharu saja, Tom. Tahun baru sudah datang.”

“Semoga di tahun baru ini, semua harapan dan impian yang belum tercapai bisa terwujud, ya..”

“Iya, semoga..”

Kami sama-sama tersenyum. Aku tidak mau membicarakan hal-hal pribadi kepada Tom, lelaki  yang baru kukenal. Malam itu kami berpisah setelah sekali lagi mengucapkan selamat tahun baru.

 

***

 

Aku sendiri tak pernah berpikir akan bertemu lagi dengan Tom, bahkan hampir melupakannya. Tetapi ternyata secara tak sengaja aku bertemu lagi dengan lelaki itu saat aku berkunjung ke Gramedia. Pertemuan yang sama sekali tak pernah kupikirkan akan terjadi.

 

“Hai, masih ingat aku?” Tom menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya yang jenaka membuatku ingin tertawa.

“Tentu saja, cowok yang sok akrab di malam tahun baru.” Tom tertawa mendengar perkataanku yang terus terang.

“Kalau tidak sok akrab, tidak mungkin aku bisa berkenalan denganmu. Benar, kan?”

 

Aku cuma tersenyum kecil mendengar gurauannya. Mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya. Pertemuan tak sengaja itu akhirnya berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Setelah 5 bulan berselang barulah aku mau menceritakan semua kisah hidupku, tanpa terkecuali. Tak ada satupun yang kututupi dari masa laluku, semuanya mengalir begitu saja dari mulutku. Sejak saat itu Tom selalu menjadi pendengar setiaku, mendampingiku dan memberi semangat kepadaku untuk bangkit dan melupakan masa lalu. Perlahan namun pasti, aku mulai bisa berdamai dengan masa laluku. Aku mulai bisa menata hatiku kembali.

 

Sampai suatu malam, di hari ulang tahunku, Tom memberikanku sebuah kejutan yang tak pernah kusangka sedikitpun.

“Selamat ulang tahun, May. Semoga sehat dan bahagia selalu.”

“Terima kasih, Tom.”

“Ini untukmu, May. Semoga kau suka.”

Tom mengangsurkan sebuah kotak kecil berwarna merah kepadaku.

“Apa ini?”

“Bukalah…”

Begitu kotak itu terbuka, dua pasang cincin menyembul dari dalamnya. Sepasang cincin yang sederhana dengan batu kecil yang bersinar terang di tengah-tengahnya.

“Apa..apa maksud semuanya ini, Tom? Aku tidak mengerti.”

“Aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku, May?”

Tom mengutarakan isi hatinya. Aku sudah mengira kalau Tom mencintaiku karena tatapan matanya selalu berbinar saat menatapku. Meski begitu, tetap saja aku merasa tak siap menerima pernyataan cintanya, tepatnya lamarannya.

“Tidakkah ini terlalu cepat, Tom. Belum juga setahun.”

“Buatku tidak, May. Aku sudah merasa cocok menjadikanmu sebagai istriku. Waktu yang lama toh tidak menjamin hubungan bisa langgeng.”

Kutatap mata cokelat di depanku dengan perasaan yang berkecamuk. Ada cinta yang terlihat di mata itu. Bibirku kelu.

“May, kalau kau masih perlu waktu lagi, aku akan menunggumu. Aku tak memaksa kau menjawab sekarang. Aku mencintaimu, May. Aku ingin melihatmu bahagia.”

Tom menyentuh tanganku perlahan, aku tak menepisnya. Kubiarkan tangannya yang kini menggenggam erat tanganku, memberi kehangatan pada tanganku yang beku.

    Apalagi yang kau tunggu, May? Mungkin dia memang jodoh yang tepat untukmu.  Jika dia kau tolak, tak akan lagi kau temukan lelaki sebaik dia, yang begitu mencintaimu dengan begitu besarnya. Ayolah, May, tunggu apa lagi …

 

Suara hatiku mulai mendesakku. Sejujurnya, aku selalu merasa nyaman berada di dekat Tom. Aku menyadari, aku juga mencintai lelaki di hadapanku ini. Hatiku mulai meleleh, bibirku bergetar menahan desakan air mata yang hampir tumpah. Dan saat kuanggukkan kepalaku perlahan, air mataku mengalir dan menderas tak terbendung. Mata Tom mengerjap bahagia, dengan lembut dia menghapus air mataku.

 

“Tersenyumlah, May. Aku ingin melihatmu tersenyum.”

Aku mencoba tersenyum dalam keharuan yang masih menyesakkan dada.

“Sengaja aku membeli dua cincin, satu untukmu dan satu untukku. Sudah ada nama kita masing-masing terukir di dalamnya. Semoga ukurannya pas di tanganmu, May. Aku cuma menebak-nebak saja karena aku ingin memberi kejutan untukmu.”

Tom menyematkan cincin berukuran lebih kecil di jari manisku, cocok sekali ukurannya.

“Syukurlah, ukurannya pas di jarimu. Yang satunya pakaikan di aku, dong.”

Masih dengan tangan bergetar, kusematkan cincin satunya di jari manis Tom. Ah, rasanya seperti mimpi saja.

“Terima kasih,” desisku nyaris tak terdengar.

 

Tom memelukku erat-erat. Tuhan, ini adalah hari ulang tahun terindah dalam hidupku. Kejutan yang manis dan cinta yang baru buatku. Ah, ternyata bahagia itu masih ada. Tuhan telah mengirimkan seseorang yang jauh lebih baik dari Rey. Yang akan menemaniku seumur hidupku. Yang akan ikut tertawa dalam kebahagiaanku dan menghiburku saat aku terpuruk. Yang akan menggendongku saat aku jatuh dan tak mampu untuk bangkit. Yang akan senantiasa memberi semangat kepadaku untuk terus melangkah meraih mimpiku. Akhirnya aku menemukan seseorang yang sungguh mencintaiku apa adanya. Seseorang yang mencintaiku lebih dari dirinya sendiri dan bahkan membantuku menemukan diriku. Terima kasih, Tuhan. Rahmat-Mu sungguh indah dalam hidupku ini.

 

***

 

Tujuh tahun lalu aku pernah berkata pada diriku sendiri untuk melupakan tempat ini dan tak akan lagi menginjakkan kaki di sini. Nyatanya sekarang aku kembali lagi kemari, dan kali ini aku pergi bersama orang yang kucintai. Memandang tempat ini, bukan kenangan pahit cinta pertama lagi yang kuingat, melainkan kenangan manis awal perjumpaanku dengan lelaki yang kini berjalan di sampingku.

Tom menggenggam tanganku erat, menyusuri area Lampion Garden yang gemerlap.

 

“Kau masih ingat awal pertemuan kita di sini, May?”

“Tentu saja ingat. Tanpa permisi kau tiba-tiba memayungiku.”

“Nah, masih untung kupayungi. Kalau tidak kau sudah basah kuyub dan masuk angin di tahun baru saat itu.”

 Kami berdua tertawa mengingat awal pertemuan kami. Tiba-tiba terdengar suara-suara anak kecil berteriak kegirangan di depan kami ..

“Mama .. lihat bebeknya lucu sekali! Edo mau foto di situ!”

“Tia mau foto di kelinci itu saja, Pa!”

 

Aku dan Tom saling pandang dan tersenyum. Satu lagi yang membuat kebahagiaan kami begitu sempurna, dua malaikat kecil yang dianugerahkan Tuhan buat kami.

Sebenarnya aku hanya ingin berdua saja dengan Tom ke tempat ini, tapi kedua anakku merengek minta ikut, tidak mau ditinggal bersama kakek dan neneknya di rumah. Kupikir tidak ada salahnya mengajak kedua anakku karena mereka pasti akan senang melihat lampion yang berwarna – warni. Toh cuma setahun sekali mereka keluar malam dan mereka juga sudah memakai jaket tebal yang kusiapkan.

 

“Nggak ngantuk kan Edo, Tia?”

“Nggak, Ma. Kan tadi tidur siangnya laaammaaa banget. Bangunnya saja sudah jam 5 sore, jadi nggak ngantuk.”

“Iya, pinternya anak-anak Mama, tidak rewel. Sebentar lagi kita pulang, ya. Tunggu kembang apinya muncul dulu.”

“Anak-anak, ayo liat ke langit, itu pesta kembang apinya akan dimulai. Hitung mundur dari 10, ya …” Tom menunjuk ke langit.

“10..9..8..7..6..5..4..3..2..1..”

“Horree! Selamat Tahun Baru!”

 

Kami berempat saling berpelukan di bawah langit kota Batu, Malang yang gemerlap penuh warna. Indah, seperti pelangi di hati kami yang berpendar dan memancarkan harapan untuk terus melangkah dalam kehangatan cinta, menyongsong tahun baru yang sudah datang.

 

***

 

 Word : 3027

 

banner_nulis_kilat-300x112widget_icon_nuliskilat

 

4 Comments

  1. Latree December 31, 2013
    • Lianny December 31, 2013
  2. Health News December 31, 2013
    • Lianny December 31, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.