Fiksi

[BeraniCerita #42] Pohon Terindah

 

credit

 

“Nay..”

Sayup aku seperti mendengar sebuah suara memanggil namaku.

Siapa yang memanggilku? Sepertinya dari balik bukit itu..

Kulangkahkan kakiku menuju ke asal suara itu, dan aku begitu takjub begitu tiba di sana. Hamparan rumput hijau dengan aneka pohon yang berwarna-warni, seperti pelangi. Dan kulihat ada seorang perempuan cantik sedang duduk di bawah pohon, tersenyum memandangku. Entah siapa dia, aku tidak mengenalnya.

Kenapa dia bisa tau namaku?

 

“Kakak cantik sekali. Kakak memanggilku?”

“Iya, kemarilah. Duduklah di sampingku.”

“Kak, kita ini di mana sih? Tempatnya indah sekali.”

“Tempat ini memang indah, karena itu Kakak suka berada di sini.”

“Aku tidak pernah melihat pohon dengan daun berwarna merah dan kuning seperti ini. Ini pohon terindah yang pernah kulihat. Seperti sebuah lukisan saja.”

“Tapi ini nyata, Nay. Itu ada telaga di dekat pohon ini, airnya segar. Kau bisa membasuh mukamu di sana.”

Perempuan itu berdiri dan menggandeng tanganku menuju ke telaga yang ada di dekat pohon itu.

“Wah, air telaganya bening sekali, pantulan pohon tadi terlihat indah di sini. Dan ada banyak tanaman air dengan bunga-bunga kecilnya yang juga berwarna warni. Indah sekali.”

“Iya. Coba basuh mukamu dengan air itu, Nay.”

“Wah segar sekali, Kak.”

Perempuan itu tersenyum dan mengusap kepalaku dengan lembut. Tak lama kemudian kami asyik berlarian di antara pepohonan yang rimbun, tertawa bersama dan bergulingan di rumput yang hijau. Entah kenapa, aku bisa langsung akrab dengan perempuan itu, meski aku tidak mengenalnya.

 

Lelah bermain, kami duduk kembali di bawah pohon yang berdaun merah dan kuning tadi. Beberapa helai daun jatuh di dekat kaki kami. Perempuan itu mengambil daun-daun tadi sambil menatapku.

“Daun-daun ini bisa dirangkai menjadi sebuah mahkota, Nay. Kau mau?”

“Mau sekali, Kak. “

Perempuan itu dengan cekatan merangkai daun-daun tadi menjadi sebuah mahkota yang sangat indah dan meletakkannya di atas kepalaku.

“Wah, kau cantik sekali dengan mahkota ini.”

“Benarkah?”

“Benar, kau bisa melihat bayanganmu di telaga itu.”

“Ah, iya. Indah sekali. Terima kasih, Kak.”

“Iya. Nay, hari sudah senja. Sekarang waktunya kau pulang, nanti orang tuamu cemas menunggumu.”

“Tapi aku ingin tetap di sini, Kak. Aku ingin bermain denganmu.”

“Kita pasti akan bermain bersama lagi, Nay. Tapi tidak sekarang, suatu saat kita akan bertemu lagi. Pulanglah…”

“O ya, aku belum tau nama Kakak. Siapa namamu, Kak?”

Perempuan cantik tadi hanya tersenyum, kemudian berbalik dan perlahan mulai melangkah meninggalkanku.

“Kak, tunggu!”

Aku berlari mengejarnya, tapi tubuh perempuan itu mulai kabur dan akhirnya benar-benar lenyap dari pandanganku.

“Kakakkkkk!”

 

“Nay..”

Kurasakan ada tepukan lembut di pipiku. Mataku mengerjap, memandang seorang perempuan yang sangat kukenal berada di sampingku, senyum bahagia menghiasi wajahnya yang pucat. Sedetik kemudian dia memeluk tubuhku, erat sekali.

“Nay, syukurlah. Akhirnya setelah 3 bulan koma, kau sadar kembali. Mama sampai cemas melihat keadaanmu. Ah, terima kasih, Tuhan. Kau sudah mengabulkan doaku…”

***

Word : 451

6 Comments

  1. Healthy LifeStyle December 29, 2013
    • Lianny December 31, 2013
  2. jampang December 30, 2013
    • Lianny December 31, 2013
  3. Orin January 6, 2014
    • Lianny January 13, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.