Fiksi

Prompt #1 : G-String Merah

Jam sudah menunjukkan jam 9 pagi ketika Dion sampai di kost tempat Toni tinggal. Diambilnya hp dan mulai mengetik di whatsapp nya ..

 

 “Gw udah di kostan loe .. katanya mau jalan hari ini … cepetan..”
” Oh ok. Eloe langsung masuk kamar aja dulu ya. Gw masih mandi nih”
Mehhh… Dion nyengir. Jaman sekarang. Mandi, hape juga dibawa. Watsapan sambil mandi. Dion terkekeh sendiri. Dia menuju kamar nomor dua di deretan kanan. Dibukanya pintu yang memang tak pernah terkunci, lalu masuk. Kamar itu tak terlalu luas. Dipenuhi dengan barang-barang praktis.

Dion menggelesot di lantai bersandarkan tempat tidur. Tapi tiba-tiba matanya tertarik pada sesuatu yang berwarna merah yang sedikit menyembul keluar dari bawah bantal. Penasaran, karena hampir tak ada baju setahu Dion yang berwarna merah di kamar ini, ditariknya benda berwarna merah itu. Dion terkesiap. G-String? G-String warna merah? Punya siapa itu? Jangan-jangan si Toni mulai main-main nih …

 

Waktu seakan bergulir dengan lambat, suara percikan air di kamar mandi membawa kembali kenangan Dion tentang pertemuannya dengan Toni untuk pertama kalinya. Hasrat yang timbul saat pertama kali melihat Toni di stasiun kereta membuatnya mendekati lelaki yang baru datang dari kampung ke kota Metropolitan ini. Hasrat yang tak berhasil ditepisnya lantaran begitu kuat membelenggunya. Hasrat yang membuat banyak orang seringkali memandang aneh dan mencibir melecehkannya.
Karena hasrat itu pula Dion dengan rela hati membayar kost tempat Toni tinggal, mencarikannya pekerjaan dan memberikan semua apa yang dimaui lelaki itu, dengan syarat Toni mau menjalin hubungan dengannya … Dion tidak mau tahu kenapa Toni dengan cepatnya mau memenuhi keinginannya. Dion bahkan tidak peduli dengan banyaknya uang yang dikeluarkannya untuk kebutuhan Toni… Yang dia tahu, hasratnya terpenuhi, titik!

 

Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunannya … Toni keluar bertelanjang dada dari dalam kamar mandi. Dihampirinya Dion dengan senyum sumringah di bibirnya. Ketika senyumnya tidak juga mendapat tanggapan dari Dion, Toni merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Dion – cowok berwajah halus dengan potongan rambut kelimis itu. Ditelitinya raut muka Dion yang terlihat cemberut dan pandangannya menerpa benda yang ada di tangan Dion. Sontak saja hatinya berdegup kencang karena gugup, tapi sedetik kemudian otaknya sudah berputar dengan cepat memberi jawab.
“Kenapa si loe, kok jutek banget?”
“Punya siapa ini? Kok bisa ada di sini?” Dion menunjukkan g-string merah yang ada ditangannya.
“Oalah ..perkara ini toh ?” Toni mengambil g-string merah yang berada di tangan Dion, mencampakkannya ke lantai.
“Soal gini aja kok diributkan? ” Toni mengumbar senyum nakalnya yang membuat hati Dion menggelora meski sedang kesal.
“Ini punya adik cewek gue yang baru datang ke Jakarta ini, kemarin malem dia nginep disini, transit doang sembari nengokin gue dan pagi-pagi tadi udah berangkat ke Yogya, ada tawaran kerja disana katanya. Teledor banget sih dia sampe g-stringnya bisa ketinggalan gitu . Kenapa loe, curiga banget kayaknya?”

 

Dion memandang Toni dengan seksama, dia tak sepenuhnya percaya dengan perkataan lelaki itu, apalagi bulan-bulan terakhir ini ada saja alasan yang dibuat Toni untuk membatalkan janji mereka. Tetapi untuk kesekian kalinya, perasaan halus Dion mencoba menepis semua keraguan itu. Sebentuk senyum kecil tersungging di bibirnya. Matanya dengan tajam menelusuri dada bidang Toni dan dengan cepat dipeluknya lelaki itu dengan gairah yang meluap.  Toni tersenyum dalam hati, bersorak gembira karena Dion tidak mencurigainya lagi. Sekelebat bayangan seorang perempuan cantik hadir dalam pikirannya. Seakan bukan Dion yang memeluknya melainkan Dita.
Yah … Dita … si pemilik g-string merah itu, perempuan yang bercinta dengannya tadi malam, kekasihnya dari kampung yang beberapa bulan lalu datang dan kemudian sering dijumpainya dengan sembunyi-sembunyi, perempuan yang membuatnya beberapa kali membatalkan janji dengan Dion. Teringat percakapannya tadi malam dengan perempuan itu ..

 

“Sampai kapan kita seperti ini bang Toni? Sudah  lama Dita menunggu..” bisik lembut Dita, abang adalah panggilan kesayangannya buat Toni.
“Sabar sayang tinggal beberapa bulan lagi, abang akan terus mengeruk duitnya si Dion. Abang sudah punya banyak uang di tabungan sekarang, tinggal ngerayu dia minta dibeliin mobil. Dita pikir abang menikmati hubungan dengan Dion itu? Bah .. abang sudah muak dengan hubungan itu. Abang sudah tak tahan dengan cibiran dan pandangan aneh orang-orang di sekitar kita itu. Kalau saja tidak karena duitnya, nggak bakalan mau bertahun-tahun abang berpura-pura seperti ini. Memuakkan !!”
“Setelah itu?”
“Beberapa bulan lagi uang tabungan abang pasti sudah tambah banyak, kita pulang ke kampung dan kawin. Biar saja si bego Dion itu meratapi nasibnya, udah ketipu… duitnya habis di tangan abang “ Keduanya kemudian tertawa lepas dan menikmati cinta mereka yang menggelora ..

 

“Toni ..” panggilan halus itu menyentakkan Toni ke dunia nyata … Dion masih memeluk erat tubuhnya , memandangnya dengan senyum di bibirnya. Toni membalas pelukan Dion sambil tertawa lebar … menertawakan kebodohan Dion ….

 

12 Comments

  1. RedCarra January 21, 2013
  2. Helda January 21, 2013
  3. liannyhendrawati January 22, 2013
  4. na' January 22, 2013
  5. hana sugiharti January 23, 2013
  6. RedCarra January 25, 2013
  7. rinibee January 25, 2013
  8. Nunung Nurlaela January 26, 2013
  9. liannyhendrawati January 26, 2013
  10. Istiadzah Rohyati January 26, 2013
  11. liannyhendrawati January 26, 2013
  12. IrmaSenja January 27, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.