Fiksi

Prompt #16 : Kisah dari Balik Jendela

Memandang keadaan di luar lewat jendela rumahku di lantai dua ini selalu membuat hatiku nyeri. Tak akan pernah kulupakan kejadian dua puluh tahun lalu. Tak akan pernah!

 

Credit: dokumentasi pribadi Hana Sugiharti

Saat itu …

“Hani, ibu mau belanja dulu di supermarket seberang rumah ya. Nanti malam, ayah pulang dari luar kota. Ibu mau masak yang enak buat makan malam.”

“Hani ikut ya?”

“Tidak usah. Ibu cuma sebentar, paling 15 menit sudah kembali. Hani kan masih pilek, nanti kena angin jadi tambah pilek. Tiduran ya.” Ibu menciumku lembut dan bergegas keluar.

Rasanya lama sekali aku menunggu ibu pulang. Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan menuju ke jendela. Dari balik jendela itu aku berharap melihat ibu datang. Agak lama kemudian aku melihat ibu menyeberang jalan sambil membawa barang belanjaan di kedua tangannya. Tapi tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi menabrak ibu. Aku menjerit ketakutan. Kulihat tubuh ibu terpental, barang belanjaannya berserakan di jalan itu. Mobil yang menabrak ibu terus saja melaju, meninggalkan tubuh ibu tergeletak di jalan.

Hari itu adalah hari terakhir aku bertemu ibu, dan ciuman ibu sebelum pergi ke supermarket adalah ciuman terakhir untukku. Saat ayah datang malam itu, untuk pertama kalinya aku melihat ayah menangis keras-keras. Meski akhirnya si penabrak bisa tertangkap dan diadili sesuai hukum yang berlaku, tapi kejadian mengerikan itu tak pernah hilang dari benakku.

 

“Hani …” sapaan lembut membuyarkan lamunanku.

“Kenapa murung?” Ini kan hari pernikahan kita, senyum dong.” Dimas memelukku dengan erat. Aku tersenyum, kubelai wajah dan leher Dimas perlahan.

“Pejamkan matamu, Dimas. Aku punya hadiah untukmu. Jangan buka matamu sampai aku bilang sudah yaaa.”

“Hadiah? Baiklah ..” Dimas tertawa sambil memejamkan matanya.

Aku mengambil sesuatu dari laci meja rias di dekatku, dan kusembunyikan di punggungku. Kuhampiri Dimas yang masih memejamkan matanya dan sedetik kemudian benda yang kupegang sudah menancap di lehernya.  Aku tersenyum melihat tubuh Dimas jatuh.

Dimas, bukan salahmu mencintaiku. Yang salah adalah kau anak dari Aris Suganda, si penabrak ibuku.

 

word : 313

 

26 Comments

  1. sari widiarti June 12, 2013
    • Lianny June 13, 2013
  2. hana June 12, 2013
    • Lianny June 13, 2013
  3. 空キセノ June 12, 2013
    • Lianny June 13, 2013
  4. ronal June 13, 2013
    • Lianny June 13, 2013
  5. latree June 13, 2013
    • Lianny June 13, 2013
      • Mugniar June 15, 2013
      • RedCarra June 17, 2013
        • Lianny June 26, 2013
  6. astin astanti June 13, 2013
    • Lianny June 13, 2013
      • astin astanti June 18, 2013
  7. noe June 14, 2013
    • Lianny June 26, 2013
  8. Mugniar June 15, 2013
    • Lianny June 26, 2013
  9. Mugniar June 15, 2013
    • Lianny June 25, 2013
  10. junioranger June 15, 2013
    • Lianny June 26, 2013
  11. nina noichil June 16, 2013
    • Lianny June 26, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.