Fiksi

Prompt #25 : Susu Untuk Sari

* Sumber Gambar *

 

Pagi itu, sebelum jam sembilan pagi Warti sudah muncul di depan rumahku.

“Aku belum siap War.”

“Ayo cepet, sudah hampir jam 9 ini. Sudah….tidak usah dandan, nanti juga ada kok yang ndandanin kamu.”

“Tapi War..”

“Apalagi sih Yun, ayo cepet. Kapan lagi ada kerjaan seperti ini.”

Tanpa menunggu jawabanku, Warti langsung menggendong Sari yang sedang bermain di teras dan langsung  menuju ke halaman depan. Mau tak mau akhirnya aku mengikuti langkah kakinya.

**

 

“Yun, kamu cocok lho pake jarik dan konde model simbok-simbok begitu,” Warti tertawa melihat penampilanku.

“Apa nggak ada kerjaan lain? Kok banyak sekali yang lihat, kakiku mulai gemeteran, War..”

“Yang ada sekarang ini ya cuma ini, Yun.  Paling juga cuma 1 jam sudah selesai, kalau kamu melakukan tugasmu dengan baik. Bersiaplah, sebentar lagi giliranmu tiba.”

Kulirik Sari yang tertidur di gendongan Warti.

Nak, apapun akan mama lakukan untukmu, agar kamu bisa minum susu.

“Tuh, cepat sana, kamu dipanggil.”

Aku segera berjalan ke arah yang ditunjuk, lalu mulai berteriak..

“Jamu… jamu!! Non, mau coba jamunya? Ada galian singset, sinom, kunir asem….”

Cut!” Jalannya jangan cepat-cepat. Ayo ulangi lagi!”

 

**

Akhirnya selesai juga tugasku. Kuusap peluh diwajahku. Warti menghampiriku sambil tersenyum, menyerahkan selembar uang enam puluh ribu. Sari juga diserahkannya kembali kepadaku.

“Sip. Lumayan kan, cuma figuran dapet uang segitu.”

“Capek War, mosok adegannya diulang-ulang terus.”

“Lha maunya sutradara itu, biarin saja. Yang penting sekarang sudah selesai kan.”

Aku meliukkan badanku yang linu karena gendongan tempat jamu tadi lumayan berat.

“War, aku paling tidak bisa kalau disuruh bergaya di depan kamera. Lagian aku tuh paling anti sama jamu War, jangankan disuruh minum, mencium baunya saja aku mau muntah. Kamu kan tau itu, tapi kenapa kamu maksa aku melakukan kerjaan ini?”

“Yun, sekarang ini kamu tidak bisa pilih-pilih kerjaan. Apa yang ada ya itu yang dikerjakan. Kalau nunggu kerjaan yang cocok, sulit. Mau sampai kapan nunggunya? Kasihan Sari.”

“Makasih War, kamu sudah baik sama aku.”

“Aku juga dapet komisi kok jadi makelar seperti ini, jadi kita sama-sama untung.”

Kupandang Sari yang kini berada dalam gendonganku. Ada kerlip bintang di mata bening itu. Kucium pipinya perlahan dan kuelus rambutnya dengan lembut.

Ah, Sari. Mama janji akan bekerja keras supaya kamu bisa minum susu, Nak. Apapun akan mama kerjakan, asal pekerjaan itu halal. Mama cuma ingin melihatmu tertawa bahagia. Doakan mama ya nak…

 

word : 366

14 Comments

  1. Ade Anita September 13, 2013
    • Lianny September 16, 2013
  2. Digen Ariansyah September 14, 2013
    • Lianny September 16, 2013
  3. RedCarra September 15, 2013
    • Lianny September 16, 2013
  4. yandhi September 16, 2013
    • Lianny September 18, 2013
  5. jampang September 18, 2013
    • Lianny September 18, 2013
  6. latree September 18, 2013
    • Lianny November 17, 2013
  7. Click hare November 16, 2013
    • Lianny November 17, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.