Kontes

Sebening Kasih Mama

 

Ibuku, wanita yang kupanggil mama, adalah sosok wanita tangguh buatku. Pada saat perhiasan dan rumah kami di kota terpaksa dijual karena terlilit hutang, mama tetap tegar. Akhirnya mama berinisiatif pergi ke pinggiran kota dan membuka toko kecil berjualan barang kebutuhan sehari-hari, di sebuah desa di sana. Mama memeras keringat, bekerja tak kenal lelah siang dan malam agar bisa bertahan hidup dan menyekolahkan kami, keempat anaknya. Hasil yang didapat tak seberapa, entah ide darimana, mama akhirnya membeli sebuah mesin obras dan menerima obrasan dari para penjahit di desa itu. Hasilnya lumayan, bisa menambah kebutuhan hidup kami sekeluarga. Berlanjut, akhirnya mama membeli sebuah mesin neci sebagai tambahan. Mama juga berjualan es batu dan es sinom yang biasanya laku kalau cuaca sedang panas-panasnya.

Seakan tak pernah lelah mama bangun setiap jam 3 pagi dan tidur larut malam, membereskan semua pekerjaan rumah tanpa kenal lelah. Biasanya pada saat menjelang lebaran, banyak penjahit yang datang membawa baju jahitan untuk dineci. Saat-saat seperti itu terkadang mama tidur hanya sekitar satu jam sehari. Sedihnya, aku tak bisa membantu mama.

Hebatnya mama tak pernah mengeluh, ya tak pernah sekalipun aku mendengar mama mengeluh, sampai sekarang. Masih terekam di benakku, saat aku sibuk belajar menghadapi ujian sampai malam, mama setia menemaniku, menyediakan teh hangat dan sepotong roti, meskipun badan mama terlihat teramat lelah. Meski aku memintanya untuk tidur terlebih dahulu, mama selalu tak mau. Mama selalu menungguku dan tidur setelahku. Itulah sebabnya aku bertekat untuk rajin belajar agar setelah lulus SMP aku bisa bersekolah di sekolah negeri yang termasuk dalam jajaran SMAN terbaik di kotaku, biayanya pasti jauh lebih murah daripada aku masuk ke sekolah swasta, tapi sekolah ini mensyaratkan nilai tertentu agar bisa masuk. Syukurlah aku lulus dengan nilai yang baik, itu berarti aku bisa masuk ke SMAN tadi. Saat pulang sekolah dan mengabarkan hal tersebut kepada mama, mama terlihat sangat bahagia dan spontan langsung memelukku saat itu juga, padahal masih banyak pembeli di toko saat itu. Aku bahagia, bisa sedikit meringankan beban mama.

Ya, dari toko kecil itulah, akhirnya keempat anak mama berhasil menjadi seorang sarjana. Senyum mama mengembang bersama air mata haru saat mendampingi keempat anaknya diwisuda.

Sampai sekarang, toko kecil itu tetap berdiri, berdua dengan papa, mama tetap berjualan di sana. Mama bilang karena tak ingin merepotkan anak-anaknya, mama ingin membelikan sesuatu untuk cucu-cucu dengan hasil keringatnya sendiri.

Mamaku seorang yang sederhana, pakaiannya tak semewah pakaian ibu-ibu lain, jarang berdandan dan hanya memakai sandal biasa saja. Biarlah penampilan mama sederhana, yang penting hatinya sangat cantik. Ya,  buatku, hati mama lebih berharga daripada segalanya.

 

mamadanaku* Foto bersama mama saat aku masih kecil. Boneka itu adalah boneka kesayanganku, pemberian dari mama *

 

Sampai sekarangpun, saat aku sudah berkeluarga dan mempunyai anak, mama tetap melayaniku seperti saat aku kecil dulu. Karena beda kota, biasanya kami bertemu setahun dua atau tiga kali, saat liburan sekolah, libur lebaran dan libur natal. Saat mudik itu, mamalah yang berbelanja sayuran, dan mencuci baju pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke toko. Aku selalu kalah cepat, selalu mama yang bangun terlebih dahulu, ya mama sudah terbiasa bangun jam 3 pagi. Jadi malu, harusnya aku yang melakukan semuanya, bukan mama. Kalau aku meminta agar aku saja yang melakukan semuanya, mama selalu bersikeras bilang tak apa-apa.

Pernah satu kali, aku mencari alasan untuk tidak pulang saat liburan, hanya karena membayangkan tidak enaknya macet di perjalanan, kebetulan waktu itu anakku juga baru buka jahitan di lututnya, jadi aku masih khawatir jahitannya akan terbuka lagi kalau banyak gerak. Aku bilang aku tidak bisa pulang. Ternyata, malah mama yang menemuiku bersama papa yang menyetir mobil sendiri, duh padahal perjalanan sekitar 3 sampai 4 jam. Membayangkan mereka berdua yang sudah lanjut usia menempuh perjalanan jauh demi menengokku, aku jadi merasa cemas. Kalau ada apa-apa di jalan, pastilah aku akan bersalah seumur hidup. Syukurlah Tuhan melindungi perjalanan mereka pergi pulang dengan selamat. Kadang-kadang aku merasa, aku ini anak yang belum bisa berbakti pada orang tua, terutama mama yang sudah menjagaku sejak dalam kandungan.

Saat kakakku sakit dan menjalani serangkaian perawatan. Mama dengan setia mendampingi dan merawat kakakku dengan sabar, lagi-lagi tanpa mengeluh. Bagi mama, anak tetaplah anak, yang akan selalu dicintainya sepenuh hati. Ya, meski berapa banyak kami sudah menyakiti hati mama, mama selalu memaafkan kami.

Sekarang ini, aku selalu berusaha menjalin komunikasi dengan mama lewat telpon seminggu sekali. Terkadang jika aku lupa sampai dua minggu tak menelpon, maka mamalah yang menelponku. Selain itu, mama sering mengirimiku paket, untuk cucu-cucu katanya.

Isinya terkadang sayur-sayuran seperti jagung manis, wortel dan bawang putih, yang bisa kubeli di bapak penjual sayur langgananku. Kalau lagi musim mangga, biasanya mama sering mengirim mangga, padahal di rumahku juga ada pohon mangga. Si bapak pembawa paket tadi sampai tanya,” Ini punya pohon mangga, kok dikirimi mangga terus?” Aku hanya bisa tersenyum saja.

Kalau kuhitung-hitung jauh lebih mahal ongkos kirim paket daripada isinya. Tak hanya sekali aku bilang,”Ma, tidak usah kirim paket. Di sini juga ada kok sayur dan buah-buahan seperti itu. Lebih baik uangnya ditabung saja.”

Eh mama malah bilang,”Tidak apa-apa. Kalau ingin memberi, tidak usah dihitung-hitung ongkos kirimnya.” Nah, kalau sudah begini mau bilang apa?

Februari lalu mama mengirimiku paket untuk hadiah ulang tahun pernikahanku. Isinya cokelat, untuk cucu-cucu katanya. Ternyata mama masih ingat hari pernikahanku. Bagaimana hati ini tidak terharu menerima itu, terselip sebuah kertas berisi tulisan mama di dalamnya. Tulisan itu aku simpan sampai sekarang, karena itu sangatlah berharga buatku.

 

kado dari mama* Makasih, Ma buat kirimannya. Surat itu masih kusimpan sampai sekarang. *

 

Aku tau, mama melakukan semua itu karena kangen dengan kami sekeluarga. Biasanya kalau seperti itu aku terkadang merasa bersalah dengan diriku sendiri, mestinya aku yang mengirim paket ke orang tuaku, bukan justru kebalikannya. Tapi aku kenal betul sifat mama. Saat mudik kalau aku membelikan kue atau oleh-oleh lainnya, paling-paling mama cuma makan sedikit, lainnya diberikan kepada anak-anakku. Begitu juga kalau ada saudara-saudara mama dari luar kota datang dan memberi mama oleh-oleh, pastilah mama akan membagikannya kepada kami, anak-anaknya. Bahkan kalau oleh-olehnya kue yang cuma tahan beberapa hari, langsung dikirimkannya lewat paket. Selalu begitu. Mama selalu ingin memberikan semuanya kepada anak-anaknya. Mungkin bagi mama, melakukan semua itu justru membuatnya bahagia. Ah, mama … sungguh hanya lantunan doa yang bisa kuberikan padamu, seperti aku yakin seyakin-yakinnya bahwa tiap saat pun mama tak pernah putus melantunkan doa buat kami anak-anakmu. Terima kasih, Mama.

Sekarang, setelah menjadi seorang ibu, aku baru menyadari bahwa aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mama. Aku tidak sekuat dan setegar seperti diri mama. Mama selalu memaafkanku saat aku berbuat kesalahan dan terkadang menyakiti hatinya. Maafkan aku, Mama.

 

???????????????????????????????* Usia bisa bertambah tua, tapi kasih Mama untuk anak2nya tidak pernah berubah, hati mama tetaplah seluas samudera ( Foto bersama Mama beberapa bulan lalu) *

 

Mama sudah mengajarkan banyak hal kepadaku, tentang kegigihan, semangat pantang menyerah, cinta dan kesabaran yang tiada habisnya. Sungguh, hati mama benar-benar seluas samudera. Aku akan belajar untuk tidak mengeluh dan selalu sabar menghadapi anak-anakku, aku akan belajar memiliki hati seluas samudera, seperti mama.

I love you, Mama. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungimu. Memberimu kesehatan dan kebahagiaan di usia senjamu ini. Amin.

 

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Hati Ibu Seluas Samudera

Hati-Ibu-Seluas-Samudera-300x295

 

15 Comments

  1. Pakde Cholik November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  2. Pakde Cholik November 28, 2014
  3. Donna Imelda November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  4. Susanti Dewi November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  5. Astin Astanti November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  6. Eka Fikry November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  7. Fikri Maulana November 28, 2014
    • Lianny December 3, 2014
  8. prih November 30, 2014
    • Lianny December 3, 2014

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.