Fiksi

Prompt #19 : Sebuah Perjalanan

“Emak, apa Emak tidak capek mengantar Badun ke sekolah tiap hari?”

“Tentu saja tidak, kau harus sekolah yang tinggi dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Apa kau mau cuma jadi buruh kasar seperti bapakmu?”

“Tidak, Mak. Andai di desa kita sudah ada sekolah, kita tidak perlu berjalan kaki sejauh ini.”

 

Mata Badun menerawang, diliriknya emak yang membawa tas punggungnya. Tas yang berisi beberapa buku, alat tulis dan bekal untuk di perjalanan. Ya, perjalanan ke sekolah di desa sebelah memakan waktu hampir 1 jam. Hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, melewati hutan dan melewati sebuah jembatan sempit yang kondisinya sudah hampir rusak.

 

“Emak, Badun janji akan sekolah yang rajin. Badun akan membangun sekolah di desa kita dan mengajar anak-anak di sana. Biar mereka tidak usah lagi berjalan jauh seperti kita.”

Langkah Emak terhenti, dipandangnya wajah Badun dengan seksama. Ada pijar bintang di mata Badun. Emak tersenyum haru, digenggamnya tangan Badun erat.

“Emak akan terus berdoa untukmu, semoga impianmu menjadi kenyataan.”

Bergandengan tangan, mereka melanjutkan perjalanan.

foto: dokumentasi pribadi Nurul Noe

“Selamat pagi, Pak Guru.”

Badun tersenyum dan membalas salam anak-anak itu. Dipandangnya anak-anak yang berlarian dengan gembira dan masuk ke dalam kelas.

Emak, impianku sudah terwujud. Meski Emak tidak ada disampingku, aku yakin Emak pasti bangga dan bahagia melihatku dari atas sana.

 

word: 203

11 Comments

  1. 空キセノ July 4, 2013
    • Lianny July 4, 2013
  2. RedCarra July 4, 2013
    • Lianny July 4, 2013
    • noe July 5, 2013
  3. Lidya July 4, 2013
    • Lianny July 4, 2013
  4. noe July 5, 2013
    • Lianny July 5, 2013
  5. Lusi July 7, 2013
    • Lianny July 9, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.