“Emak, apa Emak tidak capek mengantar Badun ke sekolah tiap hari?”
“Tentu saja tidak, kau harus sekolah yang tinggi dan mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Apa kau mau cuma jadi buruh kasar seperti bapakmu?”
“Tidak, Mak. Andai di desa kita sudah ada sekolah, kita tidak perlu berjalan kaki sejauh ini.”
Mata Badun menerawang, diliriknya emak yang membawa tas punggungnya. Tas yang berisi beberapa buku, alat tulis dan bekal untuk di perjalanan. Ya, perjalanan ke sekolah di desa sebelah memakan waktu hampir 1 jam. Hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki, melewati hutan dan melewati sebuah jembatan sempit yang kondisinya sudah hampir rusak.
“Emak, Badun janji akan sekolah yang rajin. Badun akan membangun sekolah di desa kita dan mengajar anak-anak di sana. Biar mereka tidak usah lagi berjalan jauh seperti kita.”
Langkah Emak terhenti, dipandangnya wajah Badun dengan seksama. Ada pijar bintang di mata Badun. Emak tersenyum haru, digenggamnya tangan Badun erat.
“Emak akan terus berdoa untukmu, semoga impianmu menjadi kenyataan.”
Bergandengan tangan, mereka melanjutkan perjalanan.
foto: dokumentasi pribadi Nurul Noe
“Selamat pagi, Pak Guru.”
Badun tersenyum dan membalas salam anak-anak itu. Dipandangnya anak-anak yang berlarian dengan gembira dan masuk ke dalam kelas.
Emak, impianku sudah terwujud. Meski Emak tidak ada disampingku, aku yakin Emak pasti bangga dan bahagia melihatku dari atas sana.
word: 203



Singkat tapi bagus… 🙂
Makasih 🙂
Awwwww….
emaknya gaulll, pake celana jeans hahahaha
*komen aneh, abaikan!*
hahahhahha.. aku pake celana jeans lho, dan dipanggil emak juga 🙂
BUkan jeans.. tapi celana cargo itu. hahaha.. *yang punya poto nongol: :p
emak pasti bangga dan senang kalau anaknya sudah berhasil.
iya, semua emak pasti seperti itu 🙂
Sukaaa… Emaknya pasti senyum di alamnya 🙂
Kebahagiaan seorg emak adalah melihat anaknya sukses & bahagia dlm hidupnya…
Hahahahaaa Noeeee di Badui
Oh di Badui yaa..