Photo koleksi pribadi RinRin Indrianie
Aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Si lelaki tua yang masih saja bekerja sebagai tukang becak di usia senjanya. Aku dapat melihat dengan jelas kerutan di wajah tuanya yang penuh dengan cerita kehidupan yang mengiringi hari-harinya. Meski begitu wajah keriput itu selalu menyapaku dengan senyum ramah, senyum yang tak lagi bisa kutemukan mulai seminggu yang lalu.
Aku mengenalnya, bahkan sangat mengenalnya. Si lelaki tua sudah menjadi sahabatku sejak bertahun-tahun lalu. Aku sudah ingat semua kebiasaannya setiap hari, bahkan kebiasaan barunya sejak seminggu ini.
Pagi ini seperti biasanya, si lelaki tua menghentikan langkahnya di depan sebuah gedung tua yang rupanya sudah tak terpakai lagi. Dikeluarkannya selembar koran, dibukanya dengan tangan gemetar dan sesaat kemudian mata tuanya meneliti setiap baris demi baris berita yang tertera di koran itu.
Ah, sungguh trenyuh aku melihat tubuhnya yang begitu kurus, terlihat tulang-tulangnya yang menonjol membalut tubuh rentanya. Aku ingin memeluknya, sekedar memberikan semangat kepadanya, tapi yang bisa kulakukan hanya diam membisu.
“Pak..” sebuah suara menyapa si lelaki tua.
“Setiap pagi saat saya lewat jalanan ini, saya selalu melihat Bapak serius sekali membaca koran. Berita apa sih yang Bapak cari?” seorang pemuda menyapa si lelaki tua tadi.
“Berita tentang putriku. Sudah seminggu yang lalu dia menghilang.”
“Bapak sudah lapor ke polisi?”
“Sudah, tapi masih belum ada kabar lagi sampai sekarang, padahal sudah seminggu.”
“Sabar, Pak. Saya turut berdoa semoga anak Bapak segera ketemu.”
Pemuda tadi kemudian pamit dan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan si lelaki tua yang kini kembali terpekur.
Si lelaki tua memandangku dengan mata tuanya yang berkaca-kaca, dibetulkannya letak topi hitam di kepalanya, kemudian berdiri. Perlahan dia meraihku yang sedari tadi terdiam di dekat kakinya, lalu dia meletakkanku di punggungnya. Lelaki tua itu melanjutkan langkahnya, dengan sebuah harapan semoga ada berita tentang putrinya yang hilang di koran esok pagi…
Ah, semoga aku bisa melihat si lelaki tua itu tersenyum kembali …
word : 297


semoga putrinya lekas ketemu. :((
semoga..
kebalikan dengan cerita saya ya, mbak 🙂
iya, yang ini pak tua sedih kehilangan anaknya 🙂
Aku-nya ini siapa? tas punggung?? aku belom mudeeeeng *efek baca malem2 keknya ya * >_<
betul Orin, si aku itu tas punggung hitam dekat kaki pak tua 🙂
Jadi ingat sikecil lolos dari pengawasan kami di pasar malam, untungnya dia cerdik langsung minta bantuan satpam untuk menghubungi kami melalui pengeras suara.
si aku adalah koran? bukannya tiap hari dia beli yang baru? jadi, si aku ada banyak dong? etapi bener juga kata Orin, bisa jadi si aku ini adalah tas punggung, atau benda lainnya.
he he.. iya tas punggung 🙂
semoga putrinya ketemu..
Kasian si Kakek 🙁
iya, semoga lekas ketemu anaknya kembali ..
Aku-nya itu tas punggung, ea? Kirain si Kliwon *jadi inget si Buta dari gua hantu. 😛
lha kok jadi inget si Buta dari gua hantu sih *eh bentar lagi main di tv itu 🙂
hikss …semoga lekas keetemu yah mak putrinya. 🙁
iya semoga ya …
mbok ya dibantu itu kakeknya nyari ananknya…. kok malah ditinggalin -____-
gimana cara bantunya mak Isti, daku kan cuma sebuah tas punggung 🙂
yang dimuat di koran itu ‘berita orang hilang’ kan ya. kalau ‘orang hilang yang ketemu’ dimuat juga kah?
entah juga sih mbak. Tapi kali2 aja ada beritanya di koran, syukur2 masih dalam keadaan hidup. Banyak berita orang hilang yang saat ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa, tragis banget.
kirain daku orang….
bukan, si “tas punggung” itu.. 😀