Fiksi

Prompt MFF Idol – Fusion Stage : Oma Hilang

 

Aku masih berada di alam mimpi saat terdengar teriakan heboh di luar kamar.

Apaan sih, batal deh aku ciuman sama Monik yang seksi ituuu…

Dengan gemas aku bangun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar lebar-lebar.

 

“Mamiiiii, apaan sih pake teriak-teriak segala? Masih pagi nih, ganggu tidur aja.”

“Pagi?? Sekarang tuh sudah jam 11 siang, Doniii.”

“Hah, sudah jam 11? Kok Mami nggak bangunin Doni sih, telat nih. Ada kuliah pagi.”

“Mami lagi nyari Oma, kok nggak keliatan sih dari pagi?”

“Paling juga ke tetangga, ngintip Opa di sebelah tuh.”

“Eehh, jangan ngomong sembarangan. Ayo bantu cari Oma!”

 

Cacing-cacing di perut sudah berdansa dengan hebohnya. Mencari Oma membuat berat badanku turun drastis. Di bawah tempat tidur tidak ada, di bawah meja makan tidak ada, di lemari baju tidak ada, di gudang juga tidak ada.

Emang sih, Oma kan bukan kucing ya…

 

Sampai malam, Oma masih tidak kelihatan. Papi mulai sibuk menelepon saudara-saudaranya, tetapi jawaban tetap sama. Oma tak ada di sana.

“Oma pinter banget ya main petak umpet.”

“Jangan kurang ajar, Don! Pi, gimana nih? Jangan-jangan diculik?”

“Nggak mungkin. Kita lapor polisi saja biar cepet ketemu.”

Polisi sudah dihubungi, tapi Oma tetap belum diketemukan. Sudah 3 hari Oma menghilang. Oma seperti artis terkenal sekarang, fotonya bertebaran di surat kabar dan setiap hari muncul di televisi. Model top edisi orang hilang.

Oma kemana sih? Bikin pusing saja…

 

Siang malam kami menelusuri jalan-jalan yang biasa dilalui Oma, bertanya pada tiap orang yang kami jumpai.  Tapi tak seorangpun pernah melihatnya. Dan sekarang, sudah 5 hari Oma belum diketemukan. Akhirnya aku menarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Oma jalan-jalan dan lupa arah jalan pulang sehingga tersesat.
  2. Oma sudah bosan makan bubur tiap hari, pasti Oma ingin mencoba makan pizza.
  3. Oma jenuh memasak sayur asem dan ikan asin kesukaanku tiap hari.
  4. Oma ingin menjadi artis top yang fotonya terpampang tiap hari di televisi dan surat kabar.
  5. Terakhir, Oma tidak menyayangiku.

 

Sepi juga tidak ada Oma di rumah. Tidak ada yang kuajak berjoget ria, tidak ada yang menyiram wajahku kalau bangun kesiangan dan yang paling mengenaskan tidak ada lagi menu sayur asem dan ikan asin di rumah tiap hari.

Oma, cepet pulang ya. Aku kangen nih …

 ***

 

Tempat ini masih sama seperti dulu, begitu sunyi, tenang dan damai. Bahkan wangi pohon cemaranya juga masih sama. Di tempat inilah kau pernah memberiku sebuah surat bertuliskan puisimu, sambil berbisik, “Ira, cintaku hanya untukmu.”

Entah kenapa, mengingatmu selalu membuatku bahagia.

 

Sayang, terima kasih sudah membawaku ke tempat kenangan ini ..

Kita rayakan ulang tahunmu, ya, berdua saja…

 

Kupejamkan mataku. Aku tersenyum saat merasakan kehadiranmu di sisiku dan menggandeng tanganku dengan erat, membawaku berlarian di antara pepohonan.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,

Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza,

Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu, Sayangku

 

“Astaga! Lihat! Kok ada seorang nenek di Lembah Mandalawangi ini?”

“Tubuhnya dingin. Eh, ada kertas di tangannya. Siapa ya nenek ini?”

 

***

Word : 495 ( tanpa judul )

FF Base on “GIE – Riri Riza (film) & KAMBING JANTAN – Raditya Dika (buku)”

Note : Menggabungkan film dan buku untuk dikembangkan menjadi satu FF, susah banget. Jadinya nggak nge-blend yah he he.. :D. Kambing Jantan? Pasti sudah pada tahu tuh. Untuk film Gie di FF ini, aku tidak mengambil sifatnya yang patriotik, melainkan mengambil dari sisi percintaannya. Tiga kalimat puisi di bagian akhir FF itu adalah cuplikan puisi Gie dalam suratnya untuk Ira, yang dititipkan kepada temannya sebelum Gie  meninggal. Ini salah satu special moment Gie movie, klik di sini.

Dan Lembah Mandalawangi di Gunung Pangrango merupakan tempat ditaburkannya abu Soe Hok Gie setelah beberapa kali makamnya dibongkar.

Ini adalah puisi lengkapnya:

(untitled)
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Wiraza,
Tapi aku ingin menghabiskan waktu ku disisi mu sayang ku…
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandala Wangi

 

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisi mu manisku

 

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tidak satu setan pun tahu
Mari sini sayangku
Kalian yang pernah mesra Yang pernah baik dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas Atau awan yang menang

 

Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa

 

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua

 

Berbahagialah mereka yang mati muda
Mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

 

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969 – puisi terakhir Soe Hok Gie)

 

 

2 Comments

  1. gina December 7, 2013
    • Lianny December 8, 2013

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.