credit: Dok pribadi RinRin Indrianie
Gerimis sore itu mengiringi langkahku masuk ke dalam warung Pak Karto.
“Pak, kopi satu ya.”
“Eh Neng Diah, kopinya seperti biasa kan?”
Aku tersenyum mengangguk. Kulirik Pak Karto yang sibuk membuat kopi untukku. Umur lelaki itu sekitar 50 tahun, garis wajahnya terlihat keras, tapi hatinya baik. Sudah seminggu sejak Pak Karto membuka warung ini, aku selalu rajin mengunjunginya. Bukan karena warung Pak Karto dekat dengan rumahku, tapi terlebih dari itu, ada sesuatu yang membuatku sangat ingin menemuinya setiap hari.
Seperti inikah sosok ayahku?
Aku tidak pernah mengenal sosok ayah, beliau meninggal saat aku berumur satu tahun. Dekat dengan Pak Karto membuat kerinduanku akan sosok ayah menjadi terpuaskan.
“Ini kopinya,” suara Pak Karto membuyarkan lamunanku.
“Makasih. Pak Karto tinggal sendirian disini?”
“Istri bapak sudah meninggal. Tapi ada putri bapak yang menemani.”
“Putri bapak? Kok tidak pernah kelihatan jaga warung ini?”
“Dia seumuran dengan Neng Diah, duduk di bangku SMA juga, itupun karena beasiswa yang didapatnya. Bapak tidak memintanya jaga warung, tapi menyuruhnya giat belajar. Di sekolah baru, dia perlu adaptasi biar tidak ketinggalan pelajaran.”
Ah, Pak Karto memang hebat. Andai aku punya ayah seperti Pak Karto.
“Bapak menginginkan putri bapak sekolah yang tinggi, tidak cuma jaga warung seperti ini. Apalagi yang bisa diandalkan orang kecil seperti kami, kecuali kepandaian,” lanjut Pak Karto.
“Iya, Pak. Eh, bolehkah aku berkenalan dengan putri Bapak?”
“Oh, tentu saja.”
Pak Karto segera masuk kedalam, beberapa menit kemudian lelaki itu muncul bersama seseorang.
Aku sontak terkejut. Jantungku berdebar keras dan tanganku mendadak menjadi dingin. Ingin rasanya aku berlari secepat kilat dari tempat itu, tapi aku hanya bisa terpaku memandang putri Pak Karto. Sari, murid baru di sekolahku yang setiap hari kuejekΒ karena kakinya yang pincang, kini tersenyum kearahku.
word: 281


ahhhh maakk, manis.. bagus, suka ^.^
eniweiii selamaaat yah mak dapet acer iconiaaa…haseeeekkkkk.. π
Mak Ranny, makasih yaaa. Nggak nyangka bisa dapet π
like…ada sentuhan tersendiri
Makasih udah mampir di blogku π
uhuhuhuhu terharuuuuu
owh berati blog mu ada 2 ya?
Ada 3 sih, satunya di blogspot π
aih…sweet story maaaak *jempol*
Makasih … *kasih jempol balik buat Orin*
kok merinding baca endingnya yah π
kok bisa merinding mbak, ceritanya kan nggak serem π
kereeeeeen :)) aku suka endingnya, punya pesan punya nilai π
Makasih Bella π
Makanya jadi orang jangan suka mengejek/merendahkan orang lain, dong… hehe… bagus, Mbak. ada pesan moralnya π
si Diah kena batunya ya mbak π
he he.. jarang ya mbak, tapi si Diah ini emang suka kopi kok. π
* inget temenku di SMA juga suka kopi, krn sejak SMP suka icip2 kopi ayahnya π
Nah,, suka ngejek anaknya tapi sayang sama bapaknya..
ceritanya keren Mak, ada pesan moral di dalamnya π
Iya nih, nggak tau klo murid baru itu anaknya si bapak pemilik warung. π